Ruby Kholifah Raih Franco-German Prize 2025 atas Dedikasi Hampir Dua Dekade Memperjuangkan Perdamaian dan Hak Perempuan

By Admin, 27 Januari 2026

Sunset in the mountains

Dwi Rubiyanti Kholifah, yang akrab disapa Ruby Kholifah, kembali menegaskan bahwa kerja-kerja perdamaian yang sunyi namun konsisten dapat bergema hingga ke panggung dunia. Country Representative AMAN Indonesia ini menerima 2025 Franco-German Prize for Human Rights and the Rule of Law atas dedikasinya selama hampir dua dekade dalam memperjuangkan perdamaian, hak asasi manusia, dan kepemimpinan perempuan melalui lensa Women, Peace and Security (WPS).

Penghargaan bergengsi ini diberikan oleh Pemerintah Prancis dan Jerman sebagai bentuk pengakuan atas keberanian dan komitmen individu serta masyarakat sipil dalam menegakkan hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan di berbagai belahan dunia. Sejak 2016, kedua negara tersebut secara konsisten memperingati Hari Hak Asasi Manusia setiap 10 Desember dengan menganugerahkan penghargaan ini kepada para pembela HAM yang menunjukkan dedikasi luar biasa sekaligus menegaskan peran tak tergantikan masyarakat sipil dalam menjaga martabat manusia dan supremasi hukum secara global.

Pengakuan Dunia atas Jalan Sunyi Perdamaian

Sunset in the mountains

(Sumber : antaranews.com)

Acara penganugerahan berlangsung di kediaman Duta Besar Jerman untuk Indonesia, H.E. Ralf Beste, dan dihadiri langsung olehnya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ruby Kholifah atas dedikasinya membangun perdamaian melalui pendekatan yang mengintegrasikan lensa Women, Peace and Security (WPS) dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Ralf Beste, keberanian Ruby untuk secara konsisten berkolaborasi dengan para tokoh agama dan aktor akar rumput merupakan langkah yang luar biasa dan strategis, terutama di tengah meningkatnya polarisasi dan penyalahgunaan tafsir agama untuk membenarkan kekerasan. Ia menekankan salah satu kerja penting Ruby bersama AMAN Indonesia: menjembatani agenda hak asasi manusia dengan nilai-nilai agama.

Ia juga menyoroti peran AMAN Indonesia dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), di mana organisasi ini berfungsi sebagai konektor yang menginspirasi komunitas internasional dalam mempromosikan Islam yang adil, inklusif, dan berperspektif gender.

Sementara itu, H.E. Fabien Penon, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, menegaskan bahwa penghargaan ini mencerminkan nilai-nilai universal: penghormatan terhadap hak asasi manusia, demokrasi, dan keberagaman. Pengakuan terhadap Ruby Kholifah, menurutnya, menjadi simbol pentingnya pelibatan masyarakat sipil dalam merawat perdamaian dan kemanusiaan di tengah situasi global yang semakin kompleks.

Penghargaan untuk Kerja Kolektif Perempuan dan Masyarakat Sipil

Sunset in the mountains

(Sumber : Instagram @rubykholifah)

Dalam pidatonya, Ruby menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak hanya bersifat personal, melainkan merupakan pengakuan terhadap kerja kolektif masyarakat sipil, khususnya gerakan perempuan, yang kerap berada di garis depan perlindungan perdamaian dan demokrasi.

"Saya menerima penghargaan ini melalui lensa Women, Peace and Security, karena perdamaian tidak dapat hadir tanpa pemenuhan hak asasi perempuan, kepemimpinan perempuan, dan partisipasi bermakna perempuan," ujar Ruby Kholifah.

Pernyataan ini menjadi sangat relevan di tengah menyempitnya ruang sipil, meningkatnya konflik, dan menguatnya intoleransi. Data regional dari WALHI Sumut mencatat 19 kasus kriminalisasi pejuang lingkungan hidup sepanjang 2024. Sementara itu, Komnas HAM mencatat 2.305 dugaan kasus pelanggaran HAM di Indonesia sepanjang 2024, termasuk unsur kriminalisasi, serangan terhadap kebebasan berekspresi, dan tindakan diskriminatif terhadap kelompok sipil.

Membangun Perdamaian dari Desa ke Desa

Selama 18 tahun terakhir, AMAN Indonesia telah bekerja di 56 desa di berbagai wilayah Indonesia dan berjejaring dengan lebih dari 300 mitra di tingkat lokal, nasional, maupun internasional untuk membangun perdamaian dari akar rumput.

Dalam memobilisasi gerakan Islam progresif, AMAN Indonesia mendorong pengarusutamaan agenda WPS sekaligus menghubungkan isu perdamaian dengan demokrasi, hak asasi manusia, ekstremisme kekerasan, keamanan siber, buruh migran, dan keadilan lingkungan. Melalui 59 komunitas Sekolah Perempuan, AMAN Indonesia memperkuat agensi perempuan tidak hanya sebagai penyintas konflik, tetapi juga sebagai aktor pencegahan, mediator, dan agen transformasi perdamaian.

Selain itu, melalui program Desa Damai Berkelanjutan, AMAN Indonesia memperkuat demokrasi dan kepemimpinan perempuan di tingkat lokal. Program ini menjadi relevan di tengah tantangan tata kelola desa. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 187 kasus korupsi sektor desa dari total 791 kasus sepanjang 2023, dengan kerugian negara sekitar Rp162,25 miliar.

Pada saat yang sama, partisipasi perempuan dalam pemerintahan desa masih terbatas. UN Women Indonesia (2022) mencatat hanya 4.120 perempuan (5,5 persen) yang menjabat sebagai kepala desa, dan sekitar 149.891 perempuan (22,1 persen) terlibat dalam pemerintahan desa secara keseluruhan.

Dialog sebagai Jalan Merawat Kemanusiaan

Sunset in the mountains

(Sumber : Instagram @rubykholifah)

Di tengah meningkatnya intoleransi di mana SETARA Institute mencatat 260 peristiwa dan 402 tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) sepanjang 2024 AMAN Indonesia merespons melalui pendekatan dialog.

Dalam enam tahun terakhir, AMAN Indonesia telah melaksanakan 99 Reflective Structured Dialogue (RSD) melalui program Indonesia Berdialog yang melibatkan pemimpin agama, tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, dan pemimpin adat.

Dialog-dialog ini berkontribusi pada penyelesaian konflik terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan, termasuk pembukaan kembali ruang-ruang ibadah yang sebelumnya tertutup akibat konflik dan intoleransi, dengan menempatkan martabat korban, akuntabilitas, pemulihan, dan pencegahan sebagai pusat proses perdamaian.

Pendekatan RSD juga membantu dua kota, Depok dan Lamongan, dalam mengembalikan mantan narapidana terorisme agar terintegrasi kembali ke masyarakat dengan partisipasi komunitas.

Dalam penanganan korban terorisme, pendekatan ini turut membuka akses keadilan bagi korban di Dusun Lembantongoa, Sigi, Sulawesi Tengah, sesuai dengan PP Nomor 35 Tahun 2020 tentang pemberian kompensasi dan restitusi bagi korban.

Tantangan Global dan Wajah Perdamaian yang Sederhana

Ruby juga menyoroti realitas global yang semakin kompleks. Konflik bersenjata, krisis iklim, dan kemunduran demokrasi berdampak paling berat pada perempuan dan anak. Laporan Freedom House 2025 mencatat sembilan negara di Asia Tenggara mengalami penurunan hak politik dan kebebasan sipil sejak 2015, termasuk Indonesia.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa keamanan tidak semata-mata soal senjata dan batas wilayah, melainkan tentang akses terhadap pangan, air, tanah, martabat, partisipasi, serta perlindungan terhadap ibu bumi sebagai ruang hidup bersama.

Sebagai penutup, Ruby membagikan kisah Nyadran Perdamaian di Dusun Krecek dan Gletuk, Desa Getas, Temanggung, Jawa Tengah sebuah inisiatif budaya yang mempertemukan warga lintas iman untuk berdoa, menghormati leluhur, berbagi makanan, dan merawat ingatan kolektif sebagai fondasi perdamaian.

"Dalam kebersamaan yang sederhana itulah saya melihat wajah perdamaian yang sesungguhnya, berakar pada budaya, ingatan, dan saling menghormati antarsesama," tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak, khususnya negara-negara anggota Uni Eropa, untuk tidak hanya fokus pada penyelesaian konflik, tetapi juga secara aktif mencegah perang dan merawat perdamaian sebagai tanggung jawab bersama.