Perjalanan Avionita Sinaga Melestarikan Tari Simalungun di Tengah Keterbatasan Fisik

By Admin, 16 Mei 2024

Perempuan Pesisir Jenebora Menjaga Harapan di Tengah Tekanan Industri

Perempuan Pesisir Jenebora

(Sumber : mongabay.co.id)

Langit yang sering tampak kelabu di Kampung Jenebora, Kalimantan Timur, bukan hanya tentang cuaca. Ia seperti cerminan dari kehidupan perempuan pesisir yang perlahan berubah dari yang dulu bergantung pada laut, kini harus bertahan di tengah ketidakpastian yang semakin nyata.

Ani (31) adalah salah satunya. Setiap hari, ia mengolah udang menjadi salome, jajanan khas berbentuk pentol yang sudah ia kenal sejak kecil. Dari dapur sederhana, ia berusaha menjaga agar dapur keluarganya tetap menyala. Bukan karena pilihan, tapi karena keadaan memaksanya mencari cara lain untuk bertahan.

Pendapatan suaminya sebagai nelayan sudah tidak lagi bisa diandalkan. Laut yang dulu memberi, kini semakin sulit diprediksi. “Kadang dapat, kadang nggak,” ujarnya pelan. Bahkan, hasil tangkapan sering kali tak cukup untuk menutup biaya melaut.

Di tengah kondisi itu, usaha kecil seperti salome menjadi penopang. Dengan modal sekitar Rp70.000, Ani bisa mendapatkan sekitar Rp150.000 per hari. Tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan harian dan uang jajan anaknya. Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Bahan baku utama seperti udang kini juga semakin sulit didapat.

Ketika Ruang Hidup Menyempit

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Teluk Balikpapan, yang dulu menjadi sumber kehidupan nelayan, kini dipenuhi aktivitas industri mulai dari kilang minyak, PLTU, hingga smelter nikel.

Ekspansi ini membawa dampak besar: wilayah tangkap yang semakin sempit, pencemaran laut, hingga rusaknya ekosistem mangrove. Semua itu berujung pada satu hal — hasil laut yang terus menurun.

Bagi nelayan, ini soal penghasilan. Tapi bagi perempuan seperti Ani, dampaknya jauh lebih luas. Mereka harus mencari cara untuk menutup kekurangan, sambil tetap menjalankan peran domestik di rumah.

Perempuan: Paling Terdampak, Paling Minim Didengar

Ironisnya, di tengah dampak yang mereka rasakan langsung, perempuan justru menjadi kelompok yang paling jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Sosialisasi dari perusahaan lebih banyak dihadiri laki-laki. Informasi yang diterima pun terbatas, sering kali hanya berisi sisi positif tanpa penjelasan utuh tentang risiko lingkungan.

“Kalau tahu akan begini, ndak mau kita perusahaan itu beraktivitas di sini,” kata Ani.

Hal serupa juga dirasakan Sapiah, perempuan lain di kampung itu yang mengolah udang menjadi terasi. Ia menyimpan banyak kekhawatiran, tapi tidak pernah benar-benar punya ruang untuk menyuarakannya.

Keterbatasan pendidikan dan akses membuat banyak perempuan merasa tidak percaya diri untuk berbicara. Akibatnya, suara mereka sering hilang — padahal merekalah yang menanggung beban paling besar.

Beban Berlapis yang Tak Terlihat

Beban berlapis perempuan pesisir

(Sumber : mongabay.co.id)

Di tengah krisis lingkungan, perempuan pesisir tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, tapi juga beban berlapis.

Mereka tetap harus mengurus rumah, memasak, dan merawat keluarga. Di saat yang sama, mereka juga harus mencari penghasilan tambahan seperti berjualan, menjadi buruh cuci, atau pekerjaan lain yang tersedia.

Ketika penghasilan tidak cukup, pilihan yang tersisa sering kali hanya berutang. Seperti Ani, yang terpaksa mengambil beras dari warung dengan sistem hutang, berharap bisa membayar saat ada rezeki.

“Kita mau dapat dari mana lebihnya?” ujarnya.

Beban ini semakin berat karena keputusan-keputusan besar sering kali tidak melibatkan mereka. Dalam banyak keluarga, keputusan tetap diambil oleh laki-laki, sementara perempuan menjalankan konsekuensinya.

Krisis Lingkungan, Krisis Kehidupan

Kehadiran industri ekstraktif tidak hanya mengubah lanskap lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Pencemaran laut berpotensi memengaruhi kesehatan, termasuk dari ikan yang dikonsumsi sehari-hari. Namun, keterkaitan antara lingkungan dan kesehatan ini sering kali tidak disadari karena minimnya akses informasi.

Pengalaman perempuan tentang air, kesehatan, beban kerja, hingga tekanan ekonomi sering dianggap sebagai urusan pribadi, bukan bagian dari isu besar yang perlu dibahas secara publik.

Padahal, di situlah letak realitas yang sebenarnya.

Bertahan, Meski Tak Pernah Mudah

Di tengah segala keterbatasan, perempuan di Jenebora tetap bergerak. Mereka tidak berhenti. Mereka mencari cara, sekecil apa pun, untuk menjaga kehidupan tetap berjalan.

Bagi mereka, bertahan bukan pilihan, tapi keharusan.

Mimpi mungkin tidak lagi sama seperti dulu. Bukan lagi tentang cita-cita besar, tapi tentang hal-hal sederhana — anak bisa makan, bisa sekolah, dan kehidupan bisa terus berjalan esok hari.

Dan tanpa banyak disadari, perempuan-perempuan seperti Ani dan Sapiah sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bertahan.

Mereka menjaga keseimbangan hidup, di tengah dunia yang terus berubah tanpa selalu berpihak pada mereka.