By Admin, 05 Februari 2026

Di tengah gemerlap dunia hiburan yang membesarkan namanya sebagai putri artis senior Alya Rohali, Namira Adjani memilih jalur berbeda: lintasan maraton dunia. Pilihan itu membawanya pada pencapaian luar biasa. Pada tahun 2025, Namira resmi mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai perempuan termuda peraih Six Star Finisher Medal di ajang World Marathon Majors (WMM), sekaligus meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Prestasi ini ia raih saat usianya baru 25 tahun, setelah menuntaskan maraton terakhirnya di New York City Marathon 2025.
Enam Maraton Dunia, Satu Perjalanan Panjang

(Sumber : idntimes.com)
Six Star Finisher Medal merupakan penghargaan bergengsi yang diberikan kepada pelari yang berhasil menyelesaikan enam maraton utama dunia: Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, dan New York City. Keenam ajang ini dikenal bukan hanya karena skalanya yang masif, tetapi juga tantangan fisik dan mental yang berbeda di setiap kota—mulai dari cuaca ekstrem, rute teknis, hingga tekanan kompetisi kelas dunia.
Perjalanan Namira menuju enam bintang ini dimulai pada London Marathon 2022. Ia kemudian melanjutkan langkahnya ke Tokyo, Berlin, Chicago, dan Boston. Setiap maraton menjadi fase pembelajaran, bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga ketahanan, konsistensi, dan disiplin. Puncak dari perjalanan tersebut terjadi di New York City Marathon 2025, ketika satu garis finis menutup rangkaian perjuangan bertahun-tahun.
Konsistensi yang Mengalahkan Batas Usia

(Sumber : thephrase.id)
Prestasi Namira tidak lahir dari proses instan. Dunia maraton menuntut latihan panjang, manajemen tubuh yang ketat, serta kesiapan mental menghadapi kegagalan dan kelelahan. Di usia yang relatif muda, Namira membuktikan bahwa konsistensi mampu mengalahkan batas usia dan keraguan. Ia tidak hanya berlari untuk menyelesaikan lomba, tetapi untuk menuntaskan komitmen pada dirinya sendiri.
Atas pencapaian tersebut, MURI menganugerahkan rekor kepadanya sebagai perempuan termuda Indonesia yang meraih Six Star Finisher Medal. Momen ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi Namira, tetapi juga bagi perkembangan komunitas lari di Indonesia.
Sub-4 Jam di New York: Prestasi di Atas Prestasi
Selain meraih Six Star Finisher Medal, Namira juga mencatatkan prestasi teknis yang tidak kalah membanggakan. Di New York City Marathon 2025, ia berhasil mencatat waktu 3 jam 59 menit 25 detik, menembus batas sub-4 jam sebuah pencapaian prestisius dalam dunia maraton.
Catatan waktu ini menjadikannya pelari maraton perempuan Indonesia termuda yang mampu menembus sub-4 jam di New York. Prestasi ini mencerminkan kualitas latihan, strategi lomba, dan kematangan fisik yang jarang dimiliki pelari di usia tersebut.
Dukungan Keluarga dan Inspirasi bagi Generasi Muda

(Sumber : idntimes.com)
Dukungan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Namira. Sang ibu, Alya Rohali, yang juga telah menuntaskan World Marathon Majors pada 2024, menjadi sumber motivasi dan teladan. Namun lebih dari itu, Namira berhasil membangun identitasnya sendiri menjadikan olahraga lari sebagai ruang pembuktian dan pengabdian pada gaya hidup sehat.
Melalui pencapaiannya, Namira berharap dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk berani bermimpi, bergerak aktif, dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan.
Lebih dari Medali, Sebuah Makna
Bagi Namira Adjani, enam bintang bukan sekadar koleksi medali. Ia adalah simbol keberanian untuk konsisten, ketekunan untuk terus melangkah, dan keyakinan bahwa perempuan muda Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung olahraga dunia. Dari satu lintasan ke lintasan lain, Namira membuktikan bahwa prestasi besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan tanpa henti.