By Admin, 20 Februari 2026

Di tengah ketidakpastian pandemi, ketika banyak orang kehilangan arah, Resty Armenia justru menemukan jalannya. Berawal dari guru pengganti saat COVID-19 melanda, kini Resty berstatus pegawai tetap (permanent position) di sebuah sekolah dasar di Stavanger, Norwegia. Ia menerima gaji kotor sekitar Rp80 juta per bulan, lengkap dengan tunjangan transportasi, pakaian kerja, hingga fasilitas sepeda sebuah pencapaian yang tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang adaptasi dan keberanian mengambil peluang.
Dari Guru Pengganti ke Posisi Permanen
Perjalanan Resty dimulai awal 2020, tak lama setelah ia menyelesaikan program master dengan beasiswa Uni Eropa. Saat pandemi melanda, banyak guru Taman Kanak-Kanak di Stavanger jatuh sakit. Kebutuhan tenaga pengganti pun meningkat.
Resty mendaftar. Meski kemampuan Bahasa Norwegianya saat itu belum sepenuhnya lancar, ia diterima.
Posisi sebagai guru TK menjadi titik awal penting. Komunikasi yang digunakan masih pada level dasar, sehingga membantunya beradaptasi dengan sistem pendidikan setempat. Dari sana, ia terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan bahasa hingga akhirnya dipercaya menjadi social teacher untuk kelas 1–4 di sekolah dasar.
Kisah ini menunjukkan satu hal penting: kesempatan sering datang dalam bentuk yang tidak sempurna. Yang menentukan adalah kesiapan dan keberanian untuk melangkah.
Strategi, Bukan Sekadar Tren
Menariknya, keputusan Resty membangun karier di Norwegia bukan karena tren bekerja ke luar negeri yang ramai di media sosial. Dengan latar belakang pendidikan kesejahteraan anak, ia sudah merancang langkahnya jauh sebelum itu.
Ia memahami bahwa Norwegia membuka peluang bagi tenaga asing, dengan syarat utama: penguasaan bahasa dan kompetensi yang relevan.
Sebagai negara dengan tingkat kepuasan hidup tertinggi versi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Norwegia menawarkan kualitas hidup yang stabil, layanan publik yang baik, serta sistem sosial yang egaliter. Meski biaya hidup dan pajaknya progresif dan relatif tinggi, Resty tetap mampu menyisihkan sekitar 30–40 persen penghasilannya untuk ditabung atau diinvestasikan.
Ini membuktikan bahwa kesejahteraan bukan hanya soal angka gaji, tetapi juga sistem yang mendukung dan manajemen keuangan yang bijak.
Ketika Profesi Guru Dihargai
Di Norwegia, profesi guru mendapat penghargaan tinggi, baik dari sisi pendapatan maupun fasilitas kerja. Lingkungan kerja yang profesional serta dukungan sistem pendidikan yang kuat memungkinkan tenaga pendidik berkembang secara optimal.
Bagi Resty, ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga bentuk pembuktian bahwa perempuan Indonesia mampu bersaing di panggung global.
Pelajaran untuk Perempuan Indonesia
Kisah Resty Armenia menyampaikan pesan yang kuat bagi perempuan Indonesia:
Keberhasilannya bukan hasil keberuntungan semata, melainkan kombinasi visi jangka panjang, peningkatan kompetensi, dan konsistensi.
Di era global, batas geografis bukan lagi penghalang bagi perempuan untuk berkembang. Yang dibutuhkan adalah persiapan, strategi, dan keberanian untuk melangkah.