By Admin, 1 Mei 2026

Setiap peringatan Hari Buruh, nama Marsinah kembali disebut. Bukan hanya sebagai simbol perjuangan, tapi juga sebagai pengingat: ada keadilan yang belum pernah benar-benar dituntaskan.
Tahun ini, perbincangan itu kembali menguat. Bukan tanpa alasan, nama Marsinah diusulkan sebagai pahlawan nasional, bersamaan dengan Soeharto. Sebuah langkah yang langsung memicu kontroversi.
Usulan yang Mengundang Tanda Tanya
Sejumlah akademisi dan aktivis menilai pengusulan ini bukan sekadar penghargaan, melainkan sesuatu yang lebih kompleks.
Ruth Indiah Rahayu menyebut langkah ini sebagai “manipulasi sejarah” yang berpotensi menutup pintu keadilan. Baginya, menempatkan Marsinah — seorang korban — berdampingan dengan Soeharto — pemimpin di era ketika kasus itu terjadi — justru menimbulkan paradoks.
Hal serupa disampaikan Wahyu Susilo yang menilai ini sebagai “jalan pintas” untuk menutup kasus yang belum pernah tuntas. Sementara Damairia Pakpahan melihatnya sebagai bentuk rekonsiliasi yang prematur karena kebenaran belum sepenuhnya diungkap.
Pertanyaannya sederhana, tapi krusial: bagaimana mungkin penghargaan diberikan, sementara keadilan belum hadir?
Siapa Marsinah dan Mengapa Ia Penting

(Sumber: bbc.com)
Marsinah bukan sekadar nama. Ia adalah buruh perempuan yang berani bersuara di masa ketika suara seperti itu bisa berujung bahaya.
Ia bekerja di pabrik di Sidoarjo dan aktif memperjuangkan hak-hak buruh mulai dari upah layak, lembur, hingga hak cuti haid dan hamil. Pada 3–4 Mei 1993, ia ikut dalam aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya.
Beberapa hari kemudian, ia hilang. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Ia diduga diculik, disiksa, dan dibunuh. Hingga hari ini, lebih dari 30 tahun berlalu, pelaku utama di balik kematiannya belum pernah benar-benar terungkap.
Kasusnya bahkan sempat menjadi sorotan internasional dan dicatat oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO). Namun di dalam negeri, kebenaran justru seperti terus menjauh.
Jejak Gelap yang Belum Selesai
Kasus Marsinah bukan hanya soal satu individu. Ia membuka gambaran lebih luas tentang situasi buruh — terutama perempuan — di era Orde Baru.
Pada masa itu, gerakan buruh kerap distigma sebagai ancaman. Bahkan, tidak jarang dikaitkan dengan label politik tertentu untuk membungkam perlawanan.
Menurut Ruth Indiah Rahayu, Marsinah adalah salah satu perintis perjuangan buruh perempuan di tengah tekanan militerisme. Ia bersuara ketika banyak yang memilih diam — dan justru karena itu, ia menjadi target represi.
Lebih jauh, berbagai dugaan rekayasa dalam proses hukum juga memperkuat kecurigaan publik. Beberapa pihak yang dituduh sebagai pelaku bahkan mengaku dipaksa dan disiksa untuk memberikan pengakuan.
Kebenaran, sekali lagi, tidak pernah benar-benar sampai ke permukaan.
Hari Buruh dan Ingatan yang Tak Boleh Diputus

(Sumber: harianjogja.com)
Setiap Hari Buruh, kita sering bicara tentang kesejahteraan, upah, dan hak kerja. Tapi kasus Marsinah mengingatkan bahwa ada hal yang lebih mendasar: keamanan, keadilan, dan keberanian untuk bersuara.
Pengusulan gelar pahlawan memang bisa menjadi bentuk penghormatan. Tapi tanpa penyelesaian kasus, penghargaan itu berisiko menjadi simbol kosong.
Karena pada akhirnya, perjuangan buruh bukan hanya soal masa lalu — tapi juga tentang bagaimana negara memperlakukan kebenaran hari ini.
Lebih dari Sekadar Nama, Ini Tentang Keadilan
Marsinah telah menjadi simbol. Tapi simbol tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membuka kembali kasus, mengungkap fakta, dan memberikan keadilan — bukan hanya bagi Marsinah, tapi bagi banyak korban lain yang bernasib serupa.
Hari Buruh seharusnya bukan hanya perayaan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap hak yang kita nikmati hari ini, ada suara-suara yang pernah dibungkam.
Dan beberapa di antaranya — seperti Marsinah — masih menunggu untuk benar-benar didengar.