By Admin, 18 Januari 2026

Nama Aurélie Moeremans selama ini dikenal publik lewat layar kaca dan layar lebar. Kariernya tumbuh sejak remaja, prestasinya konsisten, dan sosoknya kerap dipandang sebagai representasi perempuan muda yang berhasil di industri hiburan. Namun di balik sorotan itu, Aurélie menyimpan cerita personal yang selama bertahun-tahun tak pernah benar-benar diberi ruang.
Melalui memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurélie memilih membuka pengalaman hidup yang paling rapuh bukan untuk mengejutkan publik, melainkan untuk menyuarakan realitas yang sering kali tersembunyi, relasi tidak setara, manipulasi emosional, dan praktik child grooming yang kerap dibungkus atas nama cinta.
Relasi yang Disalahartikan sebagai Cinta
Dalam bukunya, Aurélie mengisahkan bagaimana ia, di usia remaja, terjebak dalam hubungan dengan seorang pria dewasa. Relasi tersebut perlahan menghilangkan batas, pilihan, dan rasa aman. Ia bahkan dipaksa menjalani sebuah pernikahan tanpa kehadiran keluarga kandung sebuah situasi yang menegaskan betapa isolasi menjadi bagian penting dari pola kekerasan berbasis relasi kuasa.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Manipulasi emosional, kontrol, dan penanaman rasa takut sering kali menjadi pintu masuk yang luput disadari, terutama oleh korban yang masih sangat muda.
Child Grooming dan Pola yang Kerap Tak Terlihat

Kisah Aurélie membuka diskusi penting tentang child grooming, praktik yang kerap tidak dikenali karena berlangsung secara bertahap dan terselubung. Pelaku sering memposisikan diri sebagai sosok pelindung, pemberi perhatian, atau figur yang "paling memahami", hingga korban kehilangan kemampuan untuk melihat relasi tersebut secara objektif.
Inilah mengapa isu ini tidak bisa dibebankan pada korban semata. Perlindungan membutuhkan kehadiran sistem sosial yang lebih peka, lingkungan yang mau bertanya, dan budaya yang tidak menyederhanakan kekerasan menjadi sekadar persoalan pribadi.
Menulis sebagai Proses Penyembuhan

(Sumber : kompas.id)
Aurélie mengungkapkan bahwa Broken Strings awalnya tidak ditujukan untuk publik. Ia menulis sebagai bentuk kejujuran terhadap diri sendiri, terutama setelah pengalaman pahit saat mencoba bersuara di masa lalu justru dibalas dengan penyangkalan.
Proses menulis menjadi bagian dari penyembuhan. Bukan untuk membuka luka lama, apalagi mencari balas dendam, tetapi untuk memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa pengalaman tersebut adalah bagian dari hidup tanpa harus membenarkannya.
Ruang Aman bagi Perempuan dan Orang Tua

Respons publik terhadap buku ini datang dari berbagai arah: dukungan, perdebatan, hingga polemik. Namun bagi Aurélie, pesan dari perempuan muda dan para orang tua yang merasa terbantu menjadi alasan terkuat mengapa ia tidak menyesali keputusannya berbagi.
Dengan memberikan akses e-book secara gratis, Aurélie menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah membuka ruang aman, ruang di mana pembaca tidak merasa sendirian, tidak dihakimi, dan tidak dipaksa untuk "cepat pulih".
Mengapa Kisah Ini Penting untuk Didengar
Kisah Aurélie Moeremans bukan hanya tentang masa lalu seorang figur publik. Ia adalah pengingat bahwa kekerasan berbasis relasi kuasa masih terjadi, sering kali tanpa disadari, dan bisa menimpa siapa saja.
Keberaniannya berbicara menunjukkan bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari diam. Terkadang, ia lahir dari keberanian untuk memberi nama pada luka dan dari sana, membuka jalan agar lebih banyak perempuan merasa aman untuk bersuara.