Dua Dekade di Jepang, Sastia Prama Putri Raih Ando Momofuku Award dan Tetap Bangga Jadi WNI

By Admin, 23 Februari 2026

Sunset in the mountains

Di tengah perdebatan soal nasionalisme dan pilihan tinggal di luar negeri, nama Sastia Prama Putri mendadak viral. Lewat akun Instagramnya, ia menyampaikan kebanggaan yang sederhana namun kuat: 21 tahun tinggal dan berkarier di Jepang, tetapi tetap memegang paspor Indonesia. Bagi sebagian orang, tinggal lama di luar negeri kerap dianggap menjauh dari Tanah Air. Namun bagi Sastia, justru sebaliknya. Dua dekade terakhir ia gunakan untuk membawa Indonesia masuk ke laboratorium-laboratorium riset kelas dunia.

Ilmuwan asal Jakarta ini kini berkarier sebagai asisten profesor di Osaka University. Prestasinya membuatnya menjadi perempuan asing pertama penerima Ando Momofuku Award, sebuah penghargaan bergengsi di Jepang.

Penghargaan tersebut ia raih berkat risetnya tentang tempe, makanan sederhana yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Melalui pendekatan metabolomik, Sastia meneliti senyawa bioaktif hasil fermentasi kedelai yang berpotensi membantu menurunkan kolesterol. Tempe yang sering dianggap makanan murah dan biasa, di tangannya menjadi objek riset berkelas dunia.

Sebelumnya, ia juga menerima L'Oreal-UNESCO For Women in Science Award, menegaskan kiprahnya sebagai ilmuwan perempuan yang diperhitungkan secara internasional.

Metabolomik dan Standar Baru Komoditas Indonesia

Sunset in the mountains

(Sumber : antaranews.com)

Bidang yang digeluti Sastia, metabolomik, mungkin masih terdengar asing. Secara sederhana, metabolomik memetakan “sidik jari kimia” suatu organisme atau produk pangan. Di Asia Tenggara, jumlah ahlinya masih terbatas, padahal aplikasinya sangat luas, mulai dari pangan, biofuel, hingga peningkatan kualitas ekspor.

Melalui risetnya, Sastia membantu membuat standar kualitas komoditas Indonesia seperti tempe, kopi, manggis, dan pisang. Ia juga meneliti mikroba sebagai cell factory untuk produksi biofuel memanfaatkan mikroorganisme sebagai “pabrik biologis” untuk menghasilkan bahan bakar atau bahan kimia industri.

Di pasar global, kualitas tidak lagi dinilai hanya dari tampilan fisik. Profil kimia menjadi bagian penting dari penilaian. Di sinilah ilmu yang digeluti Sastia menjadi sangat relevan bagi daya saing Indonesia.

Nasionalisme yang Tidak Selalu Berarti Pulang

Sunset in the mountains

(Sumber : detik.com)

Sudah lebih dari 20 tahun Sastia tinggal di Jepang. Ia belum kembali menetap di Indonesia. Namun baginya, nasionalisme tidak sesederhana soal lokasi tinggal.

Hampir dua pertiga publikasinya dilakukan bersama institusi Indonesia. Banyak risetnya terbit di jurnal internasional bereputasi Q1 dan Q2, yang menunjukkan dampak ilmiah yang kuat. Ia juga membina mahasiswa Indonesia di Jepang. Saat ini ada sekitar 10 mahasiswa S2 dan S3 yang ia dampingi, dan kelak akan kembali ke Indonesia membawa keahlian baru.

“Bukan satu Sastia yang pulang, tapi 10, 20, bahkan 50 PhD holder di bidang teknologi,” ujarnya.

Bagi Sastia, kontribusi bisa berbentuk membangun jejaring, membuka akses laboratorium, mempercepat transfer teknologi, dan memastikan ilmu pengetahuan mengalir kembali ke Tanah Air.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa cinta pada Indonesia tidak selalu berarti pulang secepat mungkin. Kadang, mencintai negeri bisa berarti memperkuatnya dari luar dengan ilmu, kolaborasi, dan komitmen jangka panjang. Dan mungkin, nasionalisme paling kuat justru lahir dari pilihan yang sadar: tetap menjadi WNI, tetap membawa nama Indonesia, di mana pun berada.